Rabu, 21 April 2010

GEOLOGI SULAWESI SELATAN

GEOLOGI SULAWESI SELATAN

1. REGIONAL

Secara regional, geologi Pulau Sulawesi dan sekitarnya termasuk kompleks, yang disebabkan oleh proses divergensi dari tiga lempeng litosfer, yaitu : Lempeng Australia yang bergerak ke utara, Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat, dan Lempeng Eurasia yang bergerak ke selatan-tenggara.

Tektonik regional Sulawesi terlihat pada Gbr 1. Selat Makassar yang memisahkan platform Sunda (bagian Lempeng Eurasia) dari Lengan Selatan dan Tengah, terbentuk dari proses pemekaran lantai samudera pada Miosen (Hamilton, 1979,1989; Katili, 1978,1989). Bagian utara Pulau Sulawesi adalah Palung Sulawesi Utara yang terbentuk akibat proses subduksi kerak samudera Laut Sulawesi. Di Lengan tenggara, proses konvergensi terjadi antara Lengan Tenggara dengan bagian utara Laut Banda sepanjang Tunjaman Tolo (Silver et al., 1983a,b). Kedua struktur mayor tersebut (Palung Sulawesi Utara dan Tunjaman Tolo) dihubungkan oleh Sistem Sesar Palu-Koro-Matano.

Berdasarkan asosiasi litologi dan perkembangan tektoniknya, Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya dibagi ke dalam lima propinsi tektonik (Gbr. 2), yaitu Busur Volkanik Tersier Sulawesi Barat, Busur Volkanik Kuarter Minahasa-Sangihe, Sabuk Metamorfik Kapur-Paleogen Sulawesi Tengah, Sabuk Ofiolit Kapur Sulawesi Timur dan asosiasi sedimen pelagisnya, serta fragmen Mikro-kontinen Paleozoikum Banda yang berasal dari Kontinen Australia. Kontak antara ke lima propinsi tersebut berupa kontak sesar (Hamilton, 1978,1979; Sukamto & Simandjuntak, 1983; Metcalfe, 1988.1990; Audley-Charles & Harry, 1990; Audley-Charles, 1991; Davidson, 1991).




2. LOKAL

Daerah Sulawesi Selatan termasuk ke dalam propinsi Busur Volkanik Tersier Sulawesi Barat, yang memanjang dari Lengan Selatan sampai ke Lengan Utara (Gbr. 2). Secara umum, busur ini tersusun oleh batuan-batuan plutonik-volkanik berumur Paleogen-Kuarter serta batuan-batuan metamorf dan sedimen berumur Tersier.

Geologi Sulawesi Selatan bagian timur dan barat sangat berbeda, di mana keduanya dipisahkan oleh Depresi Walanae yang berarah UUB-SST. Secara struktural, Sulawesi Selatan terpisah dari anggota Busur Barat Sulawesi lainnya oleh suatu depresi berarah UB-ST yang melintas di sepanjang Danau Tempe (van Leeuwen, 1981). Sebagai referensi, peta geologi dan stratigrafi Sulawesi Selatan dipresentasikan pada Gbr 3. Berikut dibahas geologi Sulawesi Selatan berdasarkan urutan waktu.


2.1 Kompleks batuan dasar Mesozoikum

Kompleks batuan dasar tersingkap di dua daerah di bagian barat Sulawesi Selatan, yaitu di Bantimala dan Barru, tersusun oleh batuan-batuan metamorf, ultrabasa, dan sedimen (Gbr. 3 & 4). Litologi batuan metamorf tersebut meliputi amfibolit, eklogit, sekis mika, kuarsit, klorit-felspar, dan fillit grafit (t’Hoen & Zeigler, 1917; Sukamto, 1975,1982; Berry & Grady, 1987). Dating K/Ar pada conto-conto dari kedua daerah tersebut menunjukkan bahwa proses emplacement (alih-tempat) batuan dasar ini terjadi pada Kapur Awal bagian akhir (Hamilton, 1979; Hasan, 1991; Wakita et al., 1994). Sekuens tersebut dilapis-bawahi secara tak-selaras dan diinterkalasi secara tektonik oleh unit-unit berlitologi metamorf yang terdiri atas serpih silika merah dan abu-abu, batupasir dan batulanau felspatik, rijang radiolaria, peridotit terserpentinisasi, basal, dan diorit (Sukamto, 1975,1982; Hamilton, 1979; van Leeuwen, 1981; Wakita et al., 1994). Hadirnya batuan metamorf yang sama di Jawa, Pegunungan Meratus di Kalimantan, dan di Sulawesi Tengah, menunjukkan bahwa kompleks batuan dasar di Sulawesi Selatan ini kemungkinan merupakan fragmen yang terlepas dari kompleks yang lebih besar, yaitu kompleks akresi berumur Kapur Awal (Parkinson, 1991).


2.2 Sedimentasi Kapur Akhir

Sedimen-sedimen Kapur Akhir secara berurutan terdiri atas Formasi Balangbaru (Sukamto, 1975,1982; Hasan, 1991) dan Formasi Marada (van Leeuwen, 1981), yang terdapat di bagian barat dan timur Sulawesi Selatan bagian barat (Gbr 3 & 4). Formasi Balangbaru melapis-bawahi secara tak-selaras kompleks batuan dasar, dan tersusun oleh selang-seling batupasir dan lanau-lempung, dengan sedikit konglomerat, pebble-pebble batupasir, serta breksi konglomeratik (Sukamto, 1975,1982; Hasan, 1991). Formasi Marada tersusun oleh suksesi berselang-seling dari batupasir, batulanau, dan serpih (van Leeuwen, 1981).

Sebagian besar batupasir tersebut bertipe feldspathic greywacke yang setempat bersifat kalkareus, tersusun oleh butir-butir kuarsa, plagioklas, dan ortoklas yang subangular sampai angular dengan sedikit biotit, muskovit, fragmen-fragmen litik angular, yang kesemuanya tertanam dalam matriks lempung, klorit, dan serisit (van Leeuwen, 1981). Struktur graded bedding kadang ditemukan pada batupasir dan batulempung. Unit-unit berukuran kasar dari Formasi Balangbaru mengandung struktur sedimen yang mencirikan endapan gravity flow, meliputi debris flows, graded bedding, dan sole marks yang berkemas kacau (chaotic fabric), yang keseluruhannya mengindikasikan turbidites (Hasan, 1991). Litologi dan fauna Formasi Balangbaru serta setempat-setempat Formasi Marada di bagian timur (van Leeuwen, 1981; Sukamto, 1982) mencirikan lingkungan open marine, deep neritic, sampai bathyal (van Leeuwen, 1981; Sukamto, 1982; Hasan, 1991). Berdasarkan pertimbangan litologi dan ukuran butir, Formasi Marada diinterpretasikan ekivalen secara distal dengan Formasi Balangbaru (van Leeuwen, 1981). Setting tektonik Formasi Balangbaru diinterpretasikan merupakan cekungan busur-depan kecil yang berada pada trench slope (Hasan, 1991).


2.3 Volkanisma Paleosen

Batuan-batuan volkanik berumur Paleosen terbentuk di daerah-daerah tertentu di timur Sulawesi Selatan, yang melapis-bawahi secara tak-selaras Formasi Balangbaru (Sukamto, 1975). Di daerah Bantimala, batuan volkanik ini disebut Volkanik Bua (Sukamto, 1982); dan di daerah Biru disebut Volkanik Langi (van Leeuwen, 1981; Yuwono et al., 1988). Volkanik-volkanik tersebut terdiri atas lava dan endapan piroklastik yang berkomposisi andesitik sampai traki-andesitik, yang setempat diinterkalasi oleh batugamping dan serpih ke arah atas sekuensnya (van Leeuwen, 1981; Sukamto, 1982). Dating dengan metoda fission track pada tufa bagian bawah sekuens, menunjukkan umur Paleosen (van Leeuwen, 1981). Berdasarkan kondisinya yang kalk-alkalin serta terkayakannya unsur-unsur tanah jarang tertentu, mengindikasikan bahwa volkanik ini berhubungan dengan proses subduksi (van Leeuwen, 1981; Yuwono, 1985), yang miring ke barat (van Leeuwen, 1981).


2.4 Volkanisma dan sedimentasi Eosen sampai Miosen

Formasi Mallawa tersusun oleh batupasir arkosik, batulanau, batulempung, napal, dan konglomerat yang diinterkalasi oleh layer-layer atau lensa-lensa batubara dan batugamping. Formasi ini terdapat di bagian barat Sulawesi Selatan, yang melapis-bawahi secara tak-selaras Formasi Balangbaru dan setempat Formasi Langi (Sukamto, 1982). Umur Paleogen pada formasi ini diduga dari palinomorfisnya (Khan & Tschudy, dalam Sukamto, 1982), sementara fosil ostrakoda menunjukkan umur Eosen (Hazel, dalam Sukamto, 1982). Formasi Mallawa ini diduga terendapkan pada lingkungan terrestrial/marginal marine yang menerus ke atas secara transgersif sampai ke lingkungan laut dangkal (Wilson, 1995).

Formasi Batugamping Tonasa melapis-bawahi secara tak-selaras Formasi Mallawa dan Volkanik Langi. Dari bawah ke atas, formasi ini tersusun oleh anggota-anggota A (kalkarenit berlapis baik), B (batugamping berlapis tebal sampai batugamping masif ), C (sekuens batugamping detritus tebal dengan limpahan foraminifera), dan D (limpahan material volkanik dan olistolit batugamping dari berbagai umur ) (van Leeuwen, 1981; Sukamto, 1982). Formasi ini berumur Eosen sampai Miosen Tengah (van Leeuwen, 1981; Sukamto, 1982; Wilson, 1995). Margin bagian selatan dari Formasi Tonasa diduga merupakan margin bertipe landai, dan Platform Karbonat Tonasa disusun terutama oleh fasies laut dangkal, sedangkan margin bagian utara didominasi oleh fasies redeposited (Wilson, 1995). Formasi Mallawa dan Tonasa tersebar luas di bagian barat Sulawesi Selatan (Wilson, 1995).

Formasi Salo Kaluppang hadir di bagian timur Sulawesi Selatan (Gbr 3 & 4), yang terdiri atas batugamping, serpih, dan batulempung yang interbedded dengan konglomerat volkanik, breksi, tufa, lava, batugamping, dan napal (Sukamto, 1982). Berdasarkan dating foraminifera, umurnya berkisar dari Eosen Awal sampai Oligosen Akhir (Kadar, dalam Sukamto, 1982 dan Sukamto & Supriatna, 1982). Formasi ini seumur dengan Formasi Mallawa dan bagian bawah Formasi Tonasa (Sukamto, 1982).

Formasi Kalamiseng tersingkap di bagian timur Depresi Walanae (Gbr 3 & 4), terdiri atas breksi volkanik dan lava dalam bentuk lava bantal dan lava masif, yang ber-interbedded dengan tufa, batupasir, dan napal (Sukamto, 1982; Sukamto & Supriatna, 1982; Yuwono et al., 1987). Lava tersebut dicirikan oleh basal dan diabas spilitik yang telah termetamorfosis ke fasies sekis hijau (Yuwono et al., 1988). Pegunungan Bone diinterpretasi merupakan bagian dari suatu sekuens ofiolit berdasarkan ciri dan pengamatan pada anomali gravity-nya yang tinggi serta MORB (mid oceanic ridge basalt)-nya. Dating K/Ar pada lava bantal Formasi Kalamiseng menunjukkan umur Miosen Awal (Yuwono et al., 1988), dan umur ini kemungkinan merupakan umur emplacement dari suite ofiolit yang diduga tersebut di atas (Yuwono et al., 1988).

Tubuh-tubuh intrusi tersingkap di bagian timur daerah Biru dan Tonasa-I (Sukamto, 1982), yang setelah di-dating, menunjukkan umur Miosen Awal (van Leeuwen, 1981). Yuwono et al., (1987) menghubungkan tubuh-tubuh intrusi ini dengan volkanik kalk-alkalin pada anggota bagian bawah Formasi Camba dan mengusulkan bahwa keduanya berasal dari subduksi pada Miosen Awal. Tetapi usulan tersebut tidak sesuai dengan umur Miosen Tengah (Sukamto & Supriatna, 1982) atau Miosen Tengah sampai Akhir (Sukamto, 1982) yang dicirikan oleh foraminifera pada sedimen laut yang interbedded dengan volkaniklastik.

Anggota bagian bawah Formasi Camba terdiri atas batupasir tufaan yang ber-interbedded dengan tufa, batupasir, batulempung, konglomerat volkanik dan breksi volkanik, napal, batugamping, dan batubara (Sukamto, 1982; Sukamto & Supriatna, 1982).

Formasi Bone telah dilaporkan oleh Grainge & Davies (1985) dari sumur Kampung Baru-I di daerah Sengkang, yang terdiri atas wackestone bioklastik dan packstone forraminifera planktonik berbutir halus yang ber-interbedded dengan mudstone kalkareus. Formasi ini berumur Miosen Awal (N6-N8).



2.5 Volkanisma dan sedimentasi Miosen sampai Resen

Anggota bagian atas Formasi Camba atau Volkanik Camba, berlokasi di Zona Pembagi Bagian Barat (Gbr 3 & 4). Anggota ini terdiri atas konglomerat dan breksi volkanik, lava, dan tufa, yang interbedded dengan sedimen-sedimen laut (Sukamto, 1982; Sukamto & Supriatna, 1982). Dating foraminifera menunjukkan umur Miosen Tengah sampai Miosen Akhir (Sukamto, 1982).

Volkanik Lemo melapis-bawahi secara tak-selaras Volkanik Walanae berumur Miosen Atas di daerah Biru (van Leeuwen, 1981). Dating K/Ar pada Volkanik Lemo ini menunjukkan umur Pliosen (Yuwono et al., 1988).

Bagian bawah Volkanik Camba (Gbr 4) diduga ekivalen dengan Volkanik Sopo berumur Miosen Tengah di daerah Biru (van Leeuwen, 1981). Sedangkan bagian atas Volkanik Camba diduga analogi dengan Volkanik Pammusureng di daerah Biru (van Leeuwen, 1981). Yuwono et al. (1988) membagi Volkanik Camba ke dalam dua anggota : Camba IIa yang alkali potasik dan Camba IIb yang alkali ultrapotasik. Berdasarkan dating K/Ar, dideterminasi bahwa umur Volkanik Camba II adalah Miosen Akhir (Yuwono et al., 1988).

Unit-unit volkanik yang berumur Miosen sampai Plistosen di Sulawesi Selatan telah dibahas oleh Yuwono et al. (1987). Unit-unit tersebut terdiri atas : Volkanik Baturappe, yang merupakan suatu seri litologi ekstrusif dan intrusif yang bersifat alkali potasik, di mana dating K/Ar menunjukkan umur Miosen Tengah (Yuwono et al., 1988); Volkanik Cindako, memiliki ciri yang sama dengan Volkanik Baturappe, tetapi dating K/Ar pada Volkanik Cindako ini menunjukkan umur Miosen Akhir (Yuwono et al., 1987). Oleh Sukamto (1982), kedua volkanik ini dikelompokkan ke dalam satu grup berumur Pliosen Atas, berdasarkan fakta bahwa keduanya melapis-bawahi secara tak-selaras Formasi Camba.

Volkanik Soppeng diduga berumur Miosen Akhir (Yuwono et al., 1987), tetapi Sukamto (1982) menginterpretasikan bahwa volkanik ini berumur Miosen Awal karena dilapis-bawahi secara tak-selaras oleh batuan-batuan dari Formasi Camba.

Volkanik Pare-Pare merupakan sisa dari suatu strato-volkanik yang tersusun oleh selang-seling lava flows dan breksi piroklastik, yang setelah di-dating menunjukkan umur Miosen Akhir (Yuwono et al., 1987). Lava tersebut berkomposisi intermediet sampai asam (Yuwono et al., 1987).

Volkanik strato-volkano Lompobattang yang berumur Plio-Plistosen tersebar di sebagian besar daerah bagian selatan Sulawesi Selatan, yang ketinggiannya mencapai 2.871 m. Volkanik ini terdiri atas lava bantal dan breksi piroklastik yang berkomposisi alkali potasik bersilika undersaturated dan sosonitik bersilika asam saturated (Yuwono et al., 1987).

Batuan-batuan volkanik Miosen Tengah sampai Plistosen di Sulawesi Selatan, termasuk anggota bagian atas Formasi Camba yang dominan bersifat alkalin, diinterpretasi oleh Yuwono et al. (1987) sebagai hasil peleburan parsial (partial melting) dari mantel bagian atas (phlogopite bearing peridotite) yang sebelumnya telah terkayakan oleh unsur-unsur yang incompatible oleh proses metasomatis (Yuwono et al., 1987). Ini kemungkinan berhubungan dengan subduksi sebelumnya pada Miosen Awal dalam ‘konteks intraplate yang menggelembung’ (‘distensional intraplate context’) (Yuwono et al., 1987). Bemmelen (1949) mengusulkan bahwa komposisi alkali dari volkanik-volkanik tersebut disebabkan oleh ‘asimilasi berlebihan dari batugamping yang lebih tua yang kemudian lebur’ dan bergabung dengan material kontinen ke dalam suatu busur volkanik yang berhubungan dengan subduksi (Katili, 1978). Proses magmatisme Neogen di Sulawesi tengah bagian barat berhubungan dengan proses penebalan litosferik dan proses peleburan (Gbr 6; Coffield et al., 1993; Bergman et al., 1996). Kondisi bimodal dari litologi-litologi batuan beku berumur Neogen di daerah ini diduga berasal dari urut-urutan proses peleburan (melting) kuno mantel peridotit dan kerak bumi yang menghasilkan alkalin basaltik (sosonitik) dan peleburan-peleburan berkomposisi granitik (Coffield et al., 1993; Bergman et al., 1996).

Sedimentasi Miosen Akhir ditandai oleh Formasi Tacipi berumur Miosen Tengah – Pliosen (Grainge & Davies, 1983), yang saat ini masih diteliti lebih jauh.

Formasi Walanae berhubungan tak-selaras secara setempat dengan Formasi Tacipi, dan di berbagai lokasi, kedua formasi tersebut ditemukan ber-interdigitate. Berdasarkan kandungan foraminiferanya, Formasi Walanae di-dating berumur Miosen Tengah sampai Pliosen (N9-N20, Sukamto, 1982); tetapi menurut Grainge & Davies (1983), kemungkinan berumur Miosen Akhir atau Pliosen (di atas N21), berdasarkan unit-unit basalnya. Di Cekungan Sengkang Timur, Formasi Walanae bisa dibagi ke dalam dua interval : interval bagian bawah tersusun oleh calcareous mudstone, dan interval bagian atas yang lebih arenaceous. Interval bagian bawah tersingkap dengan intensif di selatan cekungan, yang di beberapa tempat menjemari dengan reef talus dari Formasi Tacipi.

Batugamping di ujung selatan Sulawesi Selatan dan di Pulau Selayar dinamakan Batugamping Selayar, yang merupakan anggota dari Formasi Walanae (Sukamto & Supriatna, 1982). Anggota Selayar ini tersusun oleh batugamping koral dan kalkarenit dengan interkalasi napal dan batupasir kalkareus. Unit karbonat ini berumur Miosen Atas sampai Pliosen (N16-N19, Sukamto & Supriatna, 1982). Sukamto & Supriatna (1982) melaporkan bahwa hubungan penjemarian antara Formasi Walanae dengan Batugamping Selayar terjadi di Pulau Selayar.

Endapan-endapan undak, aluvial, dan pantai terdapat setempat-setempat di Sulawesi Selatan. Pengangkatan (uplift) Resen di Sulawesi Selatan dicirikan oleh naik atau tumbuhnya endapan-endapan coral reef (van Leeuwen, 1981; Sukamto, 1982).



SULAWESI TENGAH
Di Sulawesi Tengah, magmatisme potasik kalk-alkalin Miosen Akhir sampai Resen terbentuk, khususnya di sepanjang sisi kiri Zona Sesar Palu-Koro (Gbr 7; Priadi et al., 1999). Granitoid ini diperkirakan berhubungan dengan tumbukan mikro-kontinen Banggai-Sula dengan Pulau Sulawesi pada Miosen Tengah, tetapi studi detail tentang genesis dan mekanisme pengangkatannya, masih sangat terbatas.
Berdasarkan aspek-aspek petrologi, asosiasi dengan batuan/formasi yang lain, tingkat alterasi, serta sifat-sifat kimianya, granitoid Neogen ini bisa diklasifikasikan ke dalam paling sedikit tiga kelompok, dari tua ke muda, di mana ketiganya memperlihatkan perubahan yang sistematis dalam fitur-fiturnya, yaitu :
1. Granitoid ber-megakristal KF dan berkristal kasar (Granitoid C), yang terdistribusi di daerah batas-batas utara dan selatan Palu-Koro. Jenis ini bisa dikenali dengan mudah berdasarkan kenampakan kandungan butir ekuigranular kasarnya atau butir-butir kasarnya yang mengandung megakristal KF. Berbagai dating K-Ar menunjukkan kisaran umur 8,39 Ma sampai 3,71 Ma. Terdapat dua karakter petrografi yang bisa dibedakan : granitoid mengandung biotit dan hornblende sebagai mineral-mineral mafik (4,15-3,71 Ma dan 7,05-6,43 Ma), serta granitoid mengandung biotit sebagai mineral mafik mayor (8,39-7,11 Ma).
2. Granitoid medium milonitik-genesik (Granitoid B), yang tersingkap relatif di bagian tengah sebarannya (sekitar Palu-Kulawi). Jenis ini semuanya hadir dalam bentuk granitoid berbutir medium dan kadang mengandung xenolith. Juga dapat diklasifikasikan ke dalam dua sub-divisi : granitoid hornblende-biotit dan granitoid biotit. Jenis pertama terdistribusi di bagian selatan (Sulawa-Karangana) yang didating 5,46-4,05 Ma. Sedang jenis kedua terdistribusi di sekitar Kulawi, dan didating 3,78-3,21 Ma.
3. Granitoid berukuran halus dan miskin biotit (Granitoid A), merupakan granitoid termuda di daerah Palu-Koro (3,07-1,76 Ma), yang membentuk dike-dike kecil yang memotong granitoid-granitoid lainnya. Batuannya bersih, putih, mengandung sedikit biotit sebagai mineral mafik tunggal, serta tersingkap secara terkonsentrasi di bagian tengah, antara Sadaonta-Kulawi. Bersama-sama dengan dike-dike aplitik tersebut, juga ditemukan dike-dike lamprofirik (tipe minnette).

Granitoid genesik Pra-Neogen (Granitoid D) di beberapa daerah kecil di sekitar Toboli. Berdasarkan peta geologi yang dibuat Sukamto et al. (1973), distribusinya bisa diekstrapolasi berarah utara-selatan di daerah Toboli-Kasimbar. Jenis ini umumnya mengandung granit yang berkomposisi kuarsa, K-feldspar, plagioklas, dan muskovit. Terdapatnya muskovit dan umurnya yang lebih tua (96,37 Ma), membuat granitoid ini berbeda dengan jenis-jenis lainnya tersebut di atas.

Secara lateral granitoid-granitoid tersebut terdistribusi relatif melingkar (circular) dengan Granitoid A di sekitar Kulawi sebagai pusatnya, dan dikelilingi oleh Granitoid B dan C. Granitoid D, yang paling tua, memanjang utara-selatan di sebelah timur distribusi konsentris tersebut.


SABUK OFIOLIT SULAWESI TIMUR

Kompleks ofiolit dan sedimen-sedimen pelagis penutupnya di Lengan Timur dan Tenggara Sulawesi, oleh Simandjuntak (1986; Gbr. 8.9) dinamakan Sabuk Ofiolit Sulawesi Timur. Sabuk ini terdiri atas batuan-batuan mafik dan ultramafik disertai batuan sedimen pelagis dan melange di beberapa tempat. Batuan ultramafik dominan di Lengan Tenggara, tetapi batuan mafiknya dominan lebih jauh ke utara, terutama di sepanjang pantai utara Lengan Tenggara (Smith, 1983; Simandjuntak, 1986). Sekuens ofiolit yang lengkap telah dilaporkan oleh Simandjuntak (1986) di Lengan Timur, meliputi batuan mafik dan ultramafik, lava bantal, dan batuan sedimen pelagis yang didominasi batugamping laut dalam serta interkalasi rijang berlapis. Sebagian besar kompleks ini tersesarkan dan tertektonikkan dengan singkapan-singkapan yang memblok (blocky). Berdasarkan data geokimia terbatas (16 sampel basal), Sabuk Ofiolit Sulawesi Timur ini diperkirakan berasal dari mid-oceanic ridge (Surono, 1995).

ENDAPAN PLACER

  1. Deskripsi secra lengkap mineral-mineral:

1. Cassiterite

2. Chromite

3. Columbite

4. Tembaga

5. Garnet

6. Emas

7. Ilmenite

8. Magnetite

9. Monazite

10. Platina

11. Rubi

12. Rutile

13. Sapphire

14. Xenotime

15. Zircon.

  1. Definisi secara lengkap proses-proses geomorfologi :

1. Eluvial

2. Koluvial

3. Fluvial

4. Aluvial

1. Cassiterite

Komposisi Kimia : SnO2

Class: Oxida dan Hydroxida

Group: Rutile

Karakteristik fisik :

  • Warna : Hitam, Coklat Kemerahan, atau Kuning.
  • Kilap : minyak.
  • Sistem Kristal : tetragonal; 4/m 2/m 2/m
  • Belahan : baik, dua arah.
  • Pecahan : conchoidal sampai uneven (tidak rata)
  • Kekerasan : 6 - 7
  • Berat Jenis : 6.6 - 7.0+ (sangat berat untuk mineral-mineral non logam)
  • Cerat : putih, kadang-kadang coklat kemerahan
  • Karakteristik lainnya : Kilap tinggi dengan index approximately 2.0.
  • Sifat Kristal : Bentuk kristal Prismatik yang tersusun dari dua empat bagian prismatic dan salah satu bagian prisma lebih dominant, dapat berupa massive, granular, fibrous dan botryoidal, terkonsentrasi dari kombinasi antara kuarsa dan hematite, sering disebut "wood-tin".
  • Asosiasi Mineral : tourmalines, molybdenite, bismuthinite, topaz, fluorite, arsenopyrite and wolframite.
  • Kegunaan : dijumpai sebagai mayor ore (bijih) pada timah
  • Keterangan : Cassiterite adalah conto mineral yang permukaannya mempunyai banyak hiasan dengan kilap tinggi, umumya berbentuk opaq, cassiterite adalah mineral bijih yang penting dalam timah dan masih menjadi sumber timah terbesar sekarang ini. Banyak sumber dari Cassiterite sekarang yang tidak mengalami pengendapan tapi dari endapan alluvial, Sumber terbaik dari formasi asli cassiterite pada tambang timah yaitu di Bolivia yang dijumpai pada vein-vein hydrothermal.
  • Indikator penentu mineral : system kristal, kekerasan, kembaran dan index refraction (kilap)

2. Chromite

Komposisi Kimia : FeCr2O4, Iron Chromium Oxide.

Class: Oxida dan Hydroxida

Group: Spinel

Karakteristik Fisik:

  • Warna : Coklat Kehitaman sampai Hitam
  • Kilap : logam sampai minyak
  • Sistem Kristal : isometrik; 4/m bar 3 2/m
  • Sifat Kristal : Bentuk kristal baik dan kromit biasa dijumpai dalam bentuk massive atau granular.
  • Belahan : Tidak ada
  • Pecahan : Konchoidal.
  • Kekerasan : 5.5
  • Berat Jenis : 4.5 - 4.8 (rata-rata untuk mineral logam)
  • Cerat : Coklat
  • Assosiasi Mineral : olivine, talc, serpentine, uvarovite, pyroxenes, biotite, magnetite and anorthite.
  • Kegunaan : Dijumpai sebagai Mayor ore (bijih) pada kromium, sebagai komponen refractory, sebagai bahan celupan dan sebagai mineral spasemen (conto mineral)
  • Indikator Penentu Mineral : Sifat kristal, Cerat, asosiasi dengan mineral ultra-basa
  • Keterangan : Kromit terbentuk di dalam ultramaffic magma dan juga merupakan salah satu mineral yang mengkristal, hal inilah yang menyebabkan kromit dapat ditemukan di dalam tubuh bijih dan juga merupakan bagian utama yang berasal dari kromium. Pengkristalan kromit mulai terbentuk ketika magma yang berada dalam kerak bumi mulai mendingin secara perlahan-lahan yang kemudian terjatuh ke dalam kerak bumi dan mengendap di sana. Kromit banyak ditemukan dalam batuan ultramaffic seperti peridotits dan juga bias ditemukan dalam batuan-batuan metamorphic seperti serpentin, kromit yang dapat diindikasikan dari bentuk pengkristalannya sangat tahan terhadap pengaruh-pengaruh perubahan yang diakibatkan oleh suhu atau temperature dan tekanan yang tinggi hal itu pula yang menyebabkan kromit dapat terbentuk dalam batuan metamorphic.

3. Columbite

Komposisi Kimia : (Fe, Mn, Mg)(Nb, Ta)2O6, Besi Mangan Magnesium Niobium Tantalum Oxida.

Class: Oxida dan Hydroxida

Karakteristik Fisik :

  • Warna : Hitam, besi-hitam sampai coklat kehitaman
  • Kilap : sublogam.
  • System Kristal : orthorhombic; 2/m 2/m 2/m
  • Sifat Kristal : Bentuk kristal prismatic pendek dengan permukaan rounded juga berbentuk kristal tabular dapat juga menjadi granular dan massive.
  • Belahan : baik, satu arah.
  • Pecahan : subconchoidal.
  • Kekerasan : 6
  • Berat Jenis : approximately 5.0 to 5.3+ (sangat berat untuk mineral non logam).
  • Cerat : Coklat sampai
  • Assosiasi Mineral : albite, spodumene, cassiterite, microcline, lepidolite, apatite, beryl, microlite, tourmalines and amblygonite.
  • Kegunaan : Sebagai mayor ore (bijih) pada niobium dan tantalum dan sebagai mineral spasemen (conto mineral), untuk meningkatkan ketahanan di dalam logam.
  • Indikator Penentu Mineral : Sifat kristal, cerat, asosiasi dan berat jenis
  • Keterangan : Collumbit adalah mineral niobium atau dikenal juga dengan nama niobium, tetapi kebanyakan ahli geologi menyebut nama mineral tersebut sebagai collumbit, collumbit merupakan mineral yang dirangkai dengan mineral tantalite dari anggota klas tantalum, dimana kedua mineral tersebut dikelompokkan bersama sebagai salah sebuah mineral semi tunggal yang disebut columbite-tantalite.

4. Tembaga (Copper)

Komposisi Kimia : Cu, Elemental Copper

Class: Elements

Group: Emas

Karakteristik Fisik :

  • Warna : Hijau buram dan merah dengan kilau hijau
  • Kilap : logam
  • Sistem Kristal : isometric; 4/m bar 3 2/m
  • Sifat Kristal : massive, biasanya berbentuk kubus dan octahedrons, bentuk massive diperlihatkan oleh beberapa kristal pada permukaan luarnya.
  • Belahan : tidak ada
  • Pecahan : jagged (bergerigi)
  • Cerat : merah
  • Kekerasan : 2.5-3
  • Berat jenis : 8.9+ (rata-rata pada mineral logam)
  • Asosiasi Mineral : silver, calcite, malachite dan mineral copper lainnya
  • Kegunaan : Sebagai Minor ore (bijih) pada copper, sebagai batu hiasan
  • Tenacity : ductile dan sectile
  • Indikator Penentu Mineral : warna, tenacity ductility dan sifat kristal.

5. Garnet

Komposisi kimia : Ca3Cr2(SiO4)3, Calcium Chromium Silicate

Class: Silicates

Subclass: Nesosilicates

Group: Garnets

Karakteristik Fisik :

  • Warna : Hijau terang.
  • Kilap : kaca
  • Sistem Kristal : isometric; 4/m bar 3 2/m
  • Sifat Kristal : Tipe kristal rhombic dodecahedron. Tapi banyak di jumpai dalam bentuk trapezohedron. Massive and granular juga sering dijumpai.
  • Belahan : tidak ada.
  • Pecahan : konchoidal.
  • Kekerasan : 6.5 - 7
  • Berat Jenis : 3.8
  • Cerat : Putih
  • Asosiasi Mineral : chromite dan serpentine.
  • Kegunaan : Batu perhiasan atau Gemstones dan sebagai spasemen mineral
  • Karakteristik lainnya : index refraction 1.86.
  • Indikator Penentu Mineral : sifat kristal, warna, dan kekerasan.

6. Emas (Gold)

Komposisi Kimia : Au, Elemental gold

Class: Elements

Group: Emas

Karakteristik Fisik :

  • Warna : kuning keemasan, kuning mengkilap
  • Kilap : logam.
  • Sistem Kristal : isometric; 4/m bar 3 2/m
  • Belahan : tidak ada
  • Pecahan : jagged (bergerigi)
  • Cerat : kining keemasan
  • Kekerasan : 2.5 - 3
  • Berat Jenis : 19.3+
  • Asosiasi Mineral : quartz, nagyagite, calaverite, sylvanite, krennerite, pyrite sulfides.
  • Kegunaan : sebagai mineral spasemen, sebagai mayor mineral pada emas, sebagai bahan perhiasan dan koleksi,
  • Tenacity : ductile, malleable and sectile.
  • Indikator Penentu Mineral : warna, berat jenis, kekerasan, tenacity sectility, malleability and ductility.

7. Ilmenit

Komposisi Kimia : FeTiO3, Iron Titanium Oxide

Class: Oxida dan Hydroxida

Group: Hematite

Subgroup: Ilmenite

Karakteristik Fisik :

  • Warna : Hitam
  • Kilap : logam.
  • Sistem Kristal : Trigonal; bar 3
  • Sifat Kristal : Kristal tipis dan rhombohedral kadang granular dan massive, terbentuk sebagai butiran pada pasir placer
  • Belahan : Tidak ada.
  • Pecahan : conchoidal atau uneven (tidak rata)
  • Kekerasan : 5 - 6
  • Berat Jenis : 4.5 - 5.0 (Rata-rata untuk mineral logam).
  • Streak: Coklat kehitaman.
  • Asosisiasi Mineral : zircon, hematite, magnetite, rutile, spinel, analcime, albite, apatite, monazite, calcite, natrolite, microcline, olivine, pyrrhotite, biotite nepheline dan quartz.
  • Kegunaan : Sebagai mayor ore (bijih) pada titanium, sebagai spasemen mineral
  • Indikator Penentu Mineral : Sifat Kristal, berat jenis, belahan, kilap, asosiasi mineral dan cerat.

Beberapa mineral anggota dari Ilmenit grup

  • Ecandrewsite (Zinc Iron Manganese Titanium Oxide)
  • Geikielite (Magnesium Titanium Oxide)
  • Ilmenite (Iron Titanium Oxide)
  • Pyrophanite (Manganese Titanium Oxide)

8. Magnetit

Komposisi Kima : Fe3O4, Iron Oxide

Class: Oxida and Hydroxida

Group: Spinel

Karakteristik Fisik :

  • Warna : Hitam.
  • Kilap : Logam
  • Sistem Kristal : isometric; 4/m bar 3 2/m
  • Sifat Kristal : tipe octahedral tapi kadang rhombododecahedron, dan dalam bentuk isometric, banyak dijumpai dalam bentuk massive atau granular.
  • Belahan : tidak ada, walaupun bagian octahedral dapat dijumpai pada beberapa spasemen mineral
  • Pecahan : conchoidal.
  • Kekerasan : 5.5 - 6.5
  • Berat Jenis : 5.1+ (rata-rata untuk mineral logam)
  • Cerat : Hitam.
  • Asosiasi Mineral : talc dan chlorite (schists), pyrite dan hematite.
  • Kegunaan : Sebagai mayor ore (bijih) pada besi dan sebagai spasemen mineral
  • Indikator Penentu Mineral : magnetism, sifat kristal dan cerat.

9. Monazite

Komposisi Kimia : (Ce, La, Th, Nd, Y)PO4, Cerium Lanthanum Thorium Neodymium Yttrium Phosphate.

Class: Phosphates

Group: Monazite

Karakteristik fisik :

  • Warna : kuning sampai coklat atau orange-coklat
  • Kilap : kaca
  • Sistem Kristal : monoclinic; 2/m
  • Sifat Kristal : bentuk kristal equant sampai prismatic.
  • Belahan : Sempurna dalam satu arah.
  • Pecahan : uneven (tidak rata) sampai conchoidal
  • Kekerasan : 5 - 5.5
  • Berat Jenis : approximately 4.6 - 5.7
  • Cerat : Putih.
  • Asosiasi Mineral : apatite, columbite, zircon, xenotime, fergusonite, samarskite, feldspars, quartz, euxenite, polycrase dan biotite.
  • Kegunaan : Sebagai bijih (ore) pada mineral logam khususnya thorium, cerium dan lanthanum, radiokatif dan sebagai spasemen mineral.
  • Indikator Penentu Mineral : Sifat kristal, warna, belahan, berat jenis, kekerasan, dan radioaktivitas.

10. Platina

Komposisi Kimia : Pt, Elemental Platinum

Class: Elements

Group: Platinum

Karakteristik Fisik :

· Warna : putih-ungu sampai silver-ungu

· Kilap : Logam.

· System Kristal : Isometric; 4/m bar 3 2/m

· Belahan : Tidak ada

· Pecahan : jagged (bergerigi)

· Kekerasan : 4 - 4.5

· Berat Jenis : 14 - 19+, platinum asli: 21.5

· Cerat : steel-ungu.

· Asosiasi Mineral : chromite, olivine, enstatite, pyroxene, magnetite.

· Kegunaan : Sebagai Mayor ore (bijih) pada platinum, logam platinum digunakan sebagai permata pada industri kimia.

· Indikator Penentu Mineral : warna, density, kekerasan, asosisasi mineral dan tenacity ductil.

11. Rubi

Karakteristik :

Merupakan variety (macam) dari korundum

  • Variasi dari : Corundum , Al2O3 .
  • Kegunaan : Gemstone.
  • Warna : Merah.
  • Index refraction : 1.76 - 1.78
  • Sudut Gelapan : 0.009
  • Kekerasan : 9
  • Belahan : Tidak ada, rhombic parting
  • Sistem Kristal : trigonal

12. Rutile

Komposisi Kima : TiO2, Titanium Oxide

Class: Oxida and Hydroxida

Group: Rutile

Karakteristik Fisik :

· Warna : Hitam atau merah kecoklatan.

· Sistem Kristal : tetragonal; 4/m 2/m 2/m

· Sifat Kristal : prismatic dan blocky crystals

· Belahan : Baik dalam dua arah.

· Pecahan : conchoidal sampai uneven (Tidak rata)

· Kekerasan : 6 - 6.5

· Berat Jenis : 4.2+

· Cerat : Coklat

· Asosiasi Mineral : quartz, tourmaline, barite, hematite, oxides dan silicates.

· Kegunaan : Ore dari Titanium

· Keterdapatan : Minas Gerias, Brazil; Swiss Alps; Arkansas, USA, Africa

· Indikator Penentu Mineral : Sifat kristal , cerat, kekerasan, warna, kilap

13. Safir (Sapphire)

Karakteristik :

Merupakan variety (macam) dari korundum

  • Variasi dari : Corundum , Al2O3 .
  • Kegunaan : Gemstone.
  • Warna : Warna bervariasi, kecuali merah.
  • Index refraction : 1.76 - 1.78
  • Sudut Gelapan : 0.009
  • Kekerasan : 9
  • Belahan : Tidak ada, rhombic parting
  • Sistem Kristal : trigonal

14. Xenotime

Komposisi Kima : YPO4, Yttrium Phosphate

Class: Phosphates

Karakteristik Fisik :

· Warna : Coklat, ungu, hijau kecoklatan, merah dan kuning

· Kilap : vitreous

· Sistem Kristal : tetragonal; 4/m 2/m 2/m

· Sifat kristal : stubby sampai elongate prismatik crystal

· Belahan : Sempurna.

· Pecahan : uneven (tidak rata)

· Kekerasan : 4 - 5

· Berat Jenis : 4.4 - 5.1

· Cerat : coklat sampai kuning atau merah

· Asosiasi Mineral : quartz, micas khususnya biotite, monazite dan feldspars.

· Kegunaan : Sebagai spasemen mineral dan Source dari yttrium

· Indikator Penentu Mineral : warna, sifat kristal, belahan,

15. Zircon.

Komposisi Kimia : ZrSiO4, Zirconium Silicate

Class: Silicates

Subclass: Nesosilicates

Karakteristik Fisik :

· Warna : Coklat, merah, kuning, hijau, biru, hitam.

· Kilap : adamantine.

· Sistem Kristal : tetragonal; 4/m 2/m 2/m

· Sifat Kristal : dipyramidal dan prismatic.

· Belahan : Tidak sempurna

· Pecahan : uneven ( tidak rata)

· Kekerasan : 7.5

· Berat Jenis : 4.6-4.7

· Cerat : Putih

· Asosiasi Mineral : albite, biotite, garnets, xenotime dan monazite.

· Kegunaan : Batu perhiasan (gemstone) dan spasemen mineral.

· Indikator Penentu Mineral : sifat kristal, kekerasan, kilap dam density

  1. Apa pengertian dari ?
    1. Fluvial ialah aktifitas sungai yang menyebabkan terjadinya erosi, penggangkutan dan pengendapan material dipermukaan bumi. Bentukan asal fluvial berkaitan erat dengan sungai dan air permukaan yang berupa pengikisan, pengangkutan, dan penimbunan pada daerah2 rendah seperti lembah, ledok, dan dataraan alluvial. Umunya bentuk asal fluvial mempunyai relief yang rata atau datar. material penyusun satuan lahan fluvial berupa hasil rombakan dan daerah perbukitan denudasional disekitar nya berukuraan halus sampai kasar yang lasim disebut alluvial. Karena mempunyai relief datar dan litologi alluvial maka penamaan satuan lahan fluvial lebih ditekankan kepada genesis yang berkaitan dengan kegiatan utama sungai yakni erosi penggangkutan dan penimbunan. Bentukan asal fluvial terbagi atas beberapa unit yaitu:

1. fluvial terraces topografi dengan lereng hamper datar landai, teranyam lemah menengah.

2. fluvial levees topografi dengan lereng landai, jarang banjir, berhubungan erat dengan peninggian dasar oleh akumulsi fluvial.

3. fluvial basin and former lake bottoms topografi landai/ hampir - landar , jarang banjir, berhubungan erat dengan peninggian dasar oleh akumulsi fluvial lacostrim.

4. Poljes bentuk depresi memanjang yang luas, sring berkembang sesar dan kontak litologi,sering banjir oleh air sungai, air hujan dan mata air kars.

5. rivers beds karakteristik umum hamper datar, topografi tidak teratur dengan garis batas permukaan air yang berfariasi mengalamio erosi, dan bagian yang terakumulasi

Referensi : - S.proptop 1984 interpertasi penginderaan jauh untuk geomorfologi. Fakultas geografi ugm

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites